Kalau bicara soal kuliner Bali, kebanyakan orang langsung ingat babi guling atau ayam betutu. Tapi di antara dua nama itu, ayam bakar betutu punya tempat tersendiri di hati pecinta makanan berbumbu kuat. Aromanya tajam, rasanya dalam, dan setiap suapan terasa seperti membawa cerita panjang tentang tradisi dan rempah Nusantara.
Makanan ini bukan sekadar ayam yang di bakar lalu di beri bumbu. Ia adalah hasil proses panjang yang mengandalkan kesabaran, teknik, dan kekayaan bumbu khas Bali. Inilah yang membuat rasanya berbeda dari ayam bakar pada umumnya.
Asal-Usul Betutu yang Melekat dengan Budaya Bali
Kata “betutu” sendiri merujuk pada teknik memasak tradisional Bali. Dulu, betutu biasanya di sajikan untuk acara adat, upacara keagamaan, atau perayaan besar. Proses memasaknya lama dan tidak bisa asal cepat, karena tujuannya bukan hanya mengenyangkan, tapi juga menghadirkan rasa yang matang dan menyatu.
Awalnya, betutu lebih di kenal dalam versi ayam betutu kukus atau betutu panggang utuh. Namun seiring perkembangan selera, muncullah ayam bakar betutu sebagai adaptasi yang lebih praktis dan cocok untuk lidah modern, tanpa menghilangkan karakter bumbunya.
Bumbu Betutu, Kunci Utama Kelezatan
Kalau ada satu hal yang membuat makanan ini begitu khas, jawabannya jelas ada di bumbunya. Bumbu betutu di kenal sangat kompleks, terdiri dari berbagai rempah yang di haluskan dan di masak hingga aromanya keluar maksimal.
1. Rempah yang Dipakai Bukan Main-Main
Bumbu betutu biasanya berisi bawang merah, bawang putih, ketumbar, kemiri, lengkuas, jahe, kunyit, kencur, serai, daun jeruk, hingga cabai. Semua rempah ini tidak sekadar di campur, tapi dimasak sampai benar-benar matang agar tidak menyisakan rasa langu.
Inilah alasan kenapa makanan ini punya rasa yang “dalam”. Bukan pedas yang menusuk, tapi kaya dan berlapis.
2. Proses Marinasi yang Panjang
Ayam tidak langsung di bakar. Ia harus di marinasi lama dengan bumbu betutu agar rempah meresap sampai ke serat daging. Semakin lama di diamkan, biasanya rasa akan semakin kuat dan merata.
Proses inilah yang membedakan ayam bakar betutu dengan ayam bakar biasa yang sering hanya di bumbui permukaan.
Kenapa Ayam Bakar Betutu Terasa Berbeda?
Saat ayam bakar betutu masuk ke panggangan, aroma rempah langsung keluar dan bercampur dengan aroma bakaran. Di sinilah keajaiban terjadi. Bumbu yang sudah meresap akan sedikit mengering di luar, tapi tetap juicy di dalam.
Rasanya gurih, sedikit pedas, aromatik, dan meninggalkan sensasi hangat di mulut. Tidak heran kalau banyak orang bilang ayam bakar betutu itu “berani rasa”, tapi tetap nyaman di makan.
Tekstur ayamnya juga cenderung empuk karena sebelumnya di masak atau di proses lama bersama bumbu. Jadi meski di bakar, dagingnya tidak kering.
Cara Menikmati Ayam Bakar Betutu Paling Nikmat

Makanan ini paling pas di santap dengan nasi putih hangat. Kesederhanaan nasi justru menyeimbangkan rasa bumbu yang kaya. Biasanya juga di sajikan dengan sambal matah atau sambal khas Bali yang segar.
Tambahan plecing kangkung, kacang panjang rebus, atau lawar sederhana bisa jadi pendamping yang pas. Kombinasi rasa pedas, gurih, dan segar membuat makan terasa lengkap tanpa berlebihan.
Ayam Bakar Betutu di Dunia Kuliner Modern

Sekarang makanan ini sudah tidak sulit ditemukan di luar Bali. Banyak rumah makan dan UMKM kuliner yang mengadaptasi menu ini karena peminatnya terus bertambah. Bahkan, ada juga versi frozen food ayam bakar betutu yang praktis untuk dimasak di rumah.
Meski begitu, tantangan terbesarnya tetap sama: menjaga keaslian rasa. Karena bumbu betutu tidak bisa disederhanakan terlalu jauh tanpa mengorbankan karakternya.
Kesimpulan
Ayam bakar betutu adalah bukti bahwa kuliner tradisional bisa tetap relevan tanpa kehilangan identitas. Dari bumbu yang kompleks, proses yang tidak instan, hingga aroma khas yang menggoda, semuanya berpadu jadi satu pengalaman makan yang berkesan.
Lebih dari sekadar ayam bakar, ayam bakar betutu adalah cerita tentang rempah, budaya, dan kesabaran. Dan itulah yang membuatnya selalu dirindukan, bahkan setelah suapan terakhir habis.
