Kam. Feb 5th, 2026
Bung Tomo dan Pidato Pembakar Semangat Juang

Kalau kamu pernah melihat foto seorang pria berpeci dengan wajah tegas dan sorot mata penuh api, kemungkinan besar kamu sedang melihat Bung Tomo. Sosok pahlawan dari Surabaya ini dikenal luas karena pidato-pidatonya yang mampu membakar semangat juang rakyat. Bahkan hingga sekarang, ketika kamu mendengarkan rekaman pidatonya, rasa merinding sering kali muncul tanpa bisa ditahan.

Namun, di balik suara lantang dan pekikan semangat itu, tersimpan kisah panjang tentang keberanian, keyakinan, dan situasi genting bangsa yang baru saja merdeka. Ia tidak sekadar berteriak. Ia berbicara karena keadaan menuntutnya untuk bergerak dan memimpin lewat kata-kata.

Awal Kehidupan Bung Tomo dan Latar Belakangnya

Awal Kehidupan Bung Tomo dan Latar Belakangnya

Bung Tomo lahir dengan nama Su Tomo pada 3 Oktober 1920 di Kampung Blauran, Surabaya. Ia tumbuh dalam keluarga yang cukup berada. Ayahnya, Kartawan Cipto Wijoyo, bekerja sebagai pegawai pemerintahan. Bahkan, banyak cerita menyebutkan bahwa ayahnya memiliki hubungan dekat dengan garis keturunan Pangeran Diponegoro. Sementara itu, ibunya bernama Subastita.

Karena kondisi keluarga yang cukup mapan, ia memperoleh kesempatan mengenyam pendidikan yang layak. Sejak muda, ia menunjukkan ketertarikan besar pada dunia jurnalistik dan pergerakan. Oleh karena itu, ia memilih jalan sebagai wartawan dan penyiar radio. Dari sinilah kemampuannya berbicara dan menyampaikan pesan mulai terasah dengan baik.

Alih-alih menggunakan senjata, Bung Tomo menggunakan pendidikan dan keberaniannya untuk membela Indonesia, khususnya Surabaya. Ia memahami bahwa dalam situasi tertentu, kata-kata bisa menjadi senjata yang jauh lebih kuat.

Situasi Genting Surabaya dan Peristiwa Hotel Yamato

Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, situasi belum sepenuhnya aman. Pada 18 September 1945, Belanda dan Inggris kembali datang ke Indonesia dengan dalih sebagai pasukan Sekutu. Mereka masuk melalui organisasi NICA dan berlabuh di Surabaya. Akibatnya, ancaman tidak hanya datang dari Belanda, tetapi juga dari Inggris dan Australia.

Baca Juga:  Kisah Inspiratif Deddy Corbuzier Perjalanan Dari Magician ke Podcaster

Pasukan Sekutu kemudian menjadikan Hotel Yamato yang kini dikenal sebagai Hotel Majapahit sebagai markas. Keesokan harinya, pada 19 September 1945, sekelompok orang Belanda yang dipimpin Plukman mengibarkan bendera Belanda di atas hotel tanpa izin pemerintah Indonesia. Tindakan ini jelas memancing kemarahan rakyat Surabaya.

Saat itu, Bung Tomo yang bekerja sebagai wartawan kantor berita Antara langsung menuju lokasi bersama rekannya, fotografer Abdul Wahab. Ketika Abdul Wahab sedang memotret, sekelompok orang pribumi pendukung Belanda justru menyerangnya. Kejadian ini membuat situasi semakin panas. Masyarakat Surabaya pun menyerang balik.

Di tengah kekacauan, seseorang berhasil naik ke atap hotel dan merobek warna biru pada bendera Belanda. Bendera itu berubah menjadi Merah Putih. Bung Tomo kemudian naik ke atas hotel dan mengajak arek-arek Surabaya menyanyikan lagu Indonesia Raya. Peristiwa ini menjadi simbol perlawanan rakyat terhadap kesewenang-wenangan penjajah.

Radio Perjuangan dan Pidato yang Membakar Jiwa

Radio Perjuangan dan Pidato yang Membakar Jiwa

Meski peristiwa Hotel Yamato mengguncang semangat rakyat, pasukan Inggris tetap bersikap arogan. Bung Tomo melihat langsung tindakan kasar mereka, termasuk pelecehan terhadap warga sipil. Karena itu, ia merasa tidak bisa tinggal diam.

Pada awal Oktober 1945, Bung Tomo bertemu Presiden Soekarno di Jakarta. Ia menyampaikan bahwa rakyat siap melawan, asalkan mendapat komando jelas dari pusat. Bung Karno meminta Bung Tomo untuk bersabar dan memastikan Jepang benar-benar menyerahkan senjata di semua daerah. Ia menerima nasihat itu dengan lapang dada.

Namun, ia mengajukan satu permintaan penting, yaitu mendirikan sebuah stasiun radio. Usulan ini diterima. Maka pada 12 Oktober 1945, lahirlah Radio Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia. Dengan peralatan seadanya, radio ini setiap malam menyiarkan pidato Bung Tomo. Suaranya cepat menyebar dan menjadi favorit rakyat Surabaya.

Baca Juga:  Maudy Ayunda Sosok Inspiratif Generasi Muda Indonesia

Melalui radio inilah Bung Tomo menggerakkan seluruh lapisan masyarakat. Ia tidak hanya memberi informasi, tetapi juga menanamkan keberanian dan keyakinan bahwa penjajah harus dilawan.

Takbir, Fatwa Jihad, dan Warisan Bung Tomo

Suatu hari, Bung Tomo menemui Kiai Haji Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama. Ia meminta nasihat langsung dari ulama besar tersebut. Pertemuan ini terjadi tak lama setelah KH Hasyim Asy’ari mengeluarkan Fatwa Jihad pada 22 Oktober 1945. Fatwa ini menyerukan kewajiban mempertahankan kemerdekaan sebagai perjuangan sabilillah.

Sejak saat itu, ia selalu menyelipkan pekikan takbir dalam setiap pidatonya. Seruan ini terbukti semakin membakar semangat arek-arek Surabaya. Pada periode 1–9 November 1945, pidato Bung Tomo melalui radio terus menggema dan mempersiapkan rakyat menghadapi pertempuran besar.

Puncaknya terjadi pada 10 November 1945. Perlawanan rakyat Surabaya menjadi simbol keberanian bangsa Indonesia. Meskipun pertempuran berlangsung sengit, semangat juang rakyat tidak pernah padam. Hingga kini, peristiwa tersebut dikenang sebagai Hari Pahlawan.

Kesimpulan

Bung Tomo bukan sekadar orator dengan suara lantang. Ia adalah simbol keberanian, keyakinan, dan kekuatan kata-kata dalam memperjuangkan kemerdekaan. Melalui pidatonya, ia menyatukan rakyat dan menyalakan api perlawanan di saat bangsa berada di ujung tanduk. Dari kisah Bung Tomo, kamu bisa belajar bahwa semangat juang dan keberanian menyuarakan kebenaran mampu mengubah jalannya sejarah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Selamat Malam - 04:52